Arab spring yang dimulai dari Tunisia awal tahun ini ternyata bak efek domino, satu per satu negara arab mulai bergelora untuk sebuah revolusi. Tunisia dan Mesir adalah contoh sukses dari Arab spring. Keduanya masing-masing sukses menggulingkan rezim pemerintahan diktatornya. Selain itu, saat ini perjuangan warga Libya juga sudah mulai menemukan hasil dengan mulai goyahnya kekuatan Ghaddafi. Lain halnya dengan, Suriah dan Yaman, keduanya masih terus berjuang dalam jeratan sang pemimpin.
Tidak hanya negara-negara Arab, satu-satunya negara Yahudi -Israel- pun tidak luput dari adanya gejolak. Meski tak semasif gerakan di negara-negara Arab, gejolak yang terjadi di Israel setidaknya memiliki kesamaan yaitu timbul dari masalah sosial-ekonomi. Sedangkan yang membedakan adalah masalah demokrasi dan figur pemimpin. Setidaknya Netanyahu tidak sediktator Hosni Mubarak atau Ghaddafi karena ia baru dua tahun menjabat kembali sebagai Perdana Menteri. Sebelum membahas gejolak yang terjadi di Israel lebih jauh, kita akan membahas terlebih dahulu latar belakang timbulnya gejolak tersebut.
Ekonomi Israel tercatat mengalami beberapa permasalahan yang cukup serius. Biaya hidup yang ditanggung warga Israel kini semakin tinggi. Para warga yang tinggal di kota-kota besar kini dijerat dengan masalah tingkat harga sewa rumah/apartemen yang terus naik. Dalam semester pertama tahun 2011, Indeks Harga Rumah telah meningkat 3,5% dan 13,7% dalam setahun terakhir. Diperkirakan kenaikan harga-harga properti ini akan menjadi salah satu penyumbang terbesar tingginya inflasi Israel tahun ini. Tingkat inflasi Israel sampai bulan Juli 2011 adalah mencapai 3,7% atau telah meningkat 3,4% dalam dua belas bulan terakhir..
Jika dilihat lebih dalam, sebnarnya inti persoalan dari meroketnya tingkat harga rumah/sewa ini adalah hanya masalah excess demand. Tingkat pertumbuhan rumah-rumah baru tidak dapat mengimbangi kenaikkan jumlah penduduk Israel. Kondisi ini lebih disebabkan oleh birokrasi yang berbelit-belit dalam pembangunan rumah baru karena hampir 93% tanah di Israel adalah milik pemerintah.
Semakin lebarnya gap antara harga rumah dengan tingkat sewa dan harga rumah dengan rata-rata tingkat gaji membuat pembelian/sewa rumah mengalami penurunan. Tingkat pembelian rumah baru dari pihak developer mengalami penurunan sebanyak 21% selama setahun terakhir. Selain itu transaksi pembelian rumah juga mengalami penurunan 18% dari tahun lalu.
Peningkatan harga rumah/sewa ini menjadi kritik bagi sebagian besar kalangan menengah di Israel. Karena peningkatan harga sewa tersebut tidak diiringi dengan peningkatan rata-rata gaji. Dalam lima tahun terakhir pertumbuhan rata-rata gaji hanya naik 17%. Sedangkan harga rumah dalam tiga tahun terakhir sudah naik hampir 50%!
Masalah warga Israel tidak hanya pada sektor properti, sektor pangan dan energi juga turut membebani hidup mereka. Dalam paruh pertama tahun ini harga pangan telah naik 4,4% dan energi 6,6%. Kondisi ini tentu membuat pusing para penduduk terutama di kota-kota besar yang mana sebagian gajinya habis digunakan untuk membayar sewa rumah, ditambah lagi dengan naiknya harga bahan bakar dan makanan. Kenaikan kedua variabel tersebut lebih disebabkan oleh faktor eksternal yaitu meningkatnya harga-harga bahan pangan dan energi global dalam paruh tahun pertama ini.
Momentum Revolusi Israel
God bless social media! Sama halnya dengan Arab spring, protes yang terjadi di Israel ini berawal dari seorang Daphne Leef, warga Israel yang tinggal di Tel-Aviv, yang mengundang orang-orang lain melalui situs jejaring Facebook untuk bergabung melakukan protes atas tingginya harga sewa rumah dan apartemen di Tel-Aviv. Aksi protes tersebut ditunjukkan dengan membangun tenda-tenda di pinggir jalan raya di Tel-Aviv. Kontan hal ini memicu reaksi yang sama dari warga Israel di kota-kota lainnya. Jumlah demonstran dalam dua bulan terus mengalami peningkatan, sampai pada akhirnya sejarah aksi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah negara Israel terjadi pada tanggal 3 September 2011 terjadi.
Pada sabtu malam sekitar 450.000 warga Israel melakukan aksi demonstrasi untuk menuntut kehidupan yang lebih baik. Sekitar 300.000 orang berkumpul di Kikar Hamedina, Tel-Aviv. Aksi di Yerusalem juga diperkirakan dihadiri oleh sekitar 50.000 orang lebih yang berkumpul di Paris Square. dan kota-kota lainnya, seperti di Haifa, Afula, Nes Tziona, Carmiel, Nahariya, Kiryat Shmona, Eilat, Mitzpeh Ramon, Kfar Yehoshua, dan Hod Hasharon.
Seluruh demonstran ini tidak hanya menginginkan kehidupan yang lebih baik seperti turunnya biaya hidup, mereka juga fokus terhadap kebijakan ekonomi Netanyahu terutama dalam masalah anggaran negara. Pemerintah diminta untuk tidak lagi terlalu terbebani oleh masalah pertahanan jika kebijakan pertahanan yang diambil adalah tepat.
Saat ini total anggaran pertahanan adalah sekitar US$15,2 milyar atau hampir 7% dari total GDP. Kondisi ini diperparah dengan Ehud Barak -Menteri Pertahanan- yang menginginkan kenaikan anggaran perihal keamanan Timur Tengah pasca Arab spring. Netanyahu diharapkan dapat melakukan alokasi ke sektor-sektor lain seperti infrastruktur maupun pendidikan bukannya meningkatkan anggaran pertahanan.
Selain menuntut masalah ekonomi, masalah sosial juga menjadi perhatian sebagian warga Arab-Israel. Mereka juga menginginkan agar tidak ada lagi diskriminasi yang masih sering terjadi saat Israel telah merdeka lebih dari 63 tahun ini. Para warga Israel juga menuntut adanya reformasi dalam birokrasi yang dinilai buruk kinerjanya selama ini.
Suatu pemandangan yang tidak biasa memang ketika melihat orang-orang Yahudi, Muslim, Kristen berkumpul dalam satu suara menginginkan perubahan demi satu Israel, Israel yang lebih baik. Mungkin jika situasi tak kunjung membaik, bukan tidak mungkin jumlah demonstran akan jauh lebih banyak.
Sejauh ini upaya pemerintah Israel menghadapi kondisi itu semua adalah dengan membentuk sebuah komite yang dikenal dengan Trajtenberg committee. Komite tersebut diharapkan dapat mengeliminir masalah-masalah yang selama ini menjadi perhatian demonstran, seperti harga sewa rumah yang tinggi. Namun, seberapa efektif kah komite buatan Netanyahu ini? Apakah mampu setidaknya meredam inflasi yang menurut Stanley Fishcer -gubernur Bank Sentral Israel- sendiri hampir pasti lebih dari ekspektasi?
Terlalu dini memang wacana untuk menggulingkan Netanyahu, namun kekuatan zionis-kiri tampaknya mulai muncul untuk membuat Israel yang baru. Golongan zionis-kiri adalah golongan yang menginginkan kehidupan damai dengan adanya dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan dengan batas wilayah yang jelas.
Bisa jadi aksi para demonstran ini dapat dijadikan momentum oleh para zionis-kiri untuk membuat sebuah partai baru. Saat ini terdapat beberapa partai di Israel yang berhaluan zionis-kiri seperti, Partai Pergerakan Baru-Meretz dan Partai Buruh, namun hanya Pergerakan Baru-Meretz yang murni sayap kiri. Masing-masing partai tersebut hanya memperoleh 3 dan 8 kursi di Knesset. Israel selama ini lebih didominasi oleh golongan zionis-kanan seperti Netanyahu dan Partai Likudnya. Orientasi zionis-kanan lebih condong terhadap status negara Yahudi yang tak kenal lelahnya mempermasalahkan wilahyah sengketa di Tepi Barat.
Kini Netanyahu dihadapkan oleh pekerjaan rumah yang sangat besar di dalam domestik. Sementara pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya juga masih menumpuk di kantornya: mulai dari hubungan Israel dengan Turki, pengajuan kemerdekaan Palestina di PBB, sampai masalah yang semakin kompleks dengan Hamas. Kita lihat sejauh mana ‘Bibi’ dapat bertahan, manakah yang akan menjadi prioritas? Jalan menuju revolusi Israel akan terbuka lebar ketika ‘Bibi’ tidak mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumahnya tersebut dengan tepat waktu.
Kita tunggu saja, apakah akan ada Israel summer, Israel autumn, atau Israel winter? Semoga publik Israel dapat bersabar menunggu waktu yang tepat untuk sebuah revolusi, revolusi untuk Israel yang lebih baik.
Referensi:
Central Beureu of Statistics (Israel), Bank of Israel, Youm7, Haaretz, PBS NewsHour, dan Los Angeles Times
